Akhirnya selesai juga satu buku, yang memenuhi waktu-waktu senggang saya. Walaupun udah lama ga berkecimpung di grafis, ternyata saya masih juga tergelitik untuk mengetahui perkembangan iklan kita saat ini, bukan dari sudut pandang 'luar', tapi dari 'dalam'. Maksudnya, selama ini saya yang cuma misuh-misuh dan komentar ga jelas didepan TV saat menayangkan iklan, atau baca tulisan orang dimedia cetak yang sepertinya mengerti katam tentang iklan padahal ga pernah ngambil jurusan DKV di kampus.
Buku ini mengajak kita melihat dari sudut pandang orang iklan sendiri, yaitu Budiman Hakim, dan tentu saja, didalamnya dia tidak sendiri. Banyak didalamnya dia imbuhkan kutipan-kutipan tulisan rekan-rekannya dari milis maupun yang lain. Gaya tulisannya yang ringan, seperti orang ngobrol, bikin enak untuk dibaca, tanpa mengurangi bobot didalamnya.
Sebenarnya buku Ngobrolin Iklan, Yuk! lebih cocok dibaca oleh orang yang punya kaitan dengan iklan. Tapi diawal-awal, tema yang diangkat cukup universal, bisa menjadi masukan orang diluar iklan. Seperti pada bab II berjudul kreativitas dan hambatan-hambatannya. Budiman bercerita tentang pengalamannya tahun 1984 tinggal di Jerman, desa Rimbach tepatnya, bersama keluarga Schmidt;
- Kalau dia sedang jalan-jalan dikota, orang-orang pada ngeliatin. Bahkan ada yang mengelus-elus kulitnya. Rumah Schmidt pun jadi ramai banyak tetangga yang berkunjung, hanya untuk melihat Budiman dan mengelus kulitnya. Kata Pak Schmidt, kulit seperti itulah yang diidam-idamkan. Kulit hitam hasil jemuran matahari tidak sebagus kulit om Bud. (Disini? Orang berlomba-lomba ingin berkulit putih -Pen)
- Ketika di supermarket, Ibu Schmidt membiarkan Olaf, anaknya yang masih 4 tahun, jalan-jalan tanpa dipegangi orang tuanya. Kuatir hilang Budiman menggandeng tangan anak itu. Diluar dugaan Ibu Schmidt meminta Budiman untuk melepas tangan Olaf dan membiarkan dia jalan-jalan sendirian. Alasan Ibu Schmidt, "Saya mau Olaf belajar mandiri." Kalau terpisah gimana? "Saya mau dia merasa menanggung resiko itu. Sehingga dia punya tanggung jawab pada dirinya sendiri agar tidak hilang dari pengamatan kita. Biarkan dia bermain sekaligus memastikan dirinya sendiri tetap berada disekitar kita." Kalau hilang? "Jangan kuatir, Mata saya hampir tidak pernah lepas dari dia. Tapi dia tidak perlu tau kan?" (Katanya kalo diluar, anak-anak dibiasakan tidak digendong, tapi ditaro di kereta anak, supaya dia terbiasa sendiri. Juga tidur dipisahkan dari orang tua. Dengan begitu tidak manja dan bergantung pada orang tua. -Pen)
- Kalau rumah kedatangan tamu, Bapak Schmidt selalu memanggil anak-anaknya untuk menemui tamunya. Kemudian Bapak Schmidt memperkenalkan anak-anaknya, dan menyuruh anak-anaknya untuk memperkenalkan diri ke tamu. Tidak sampai disitu, mereka pun mengobrol basa-basi dengan lancarnya, bahkan si kecil Olaf berceloteh paling panjang, padahal hanya menceritakan anjingnya yang baru beranak 3 ekor. Setelah ngalor-ngidul barulah semua anak diijinkan meninggalkan ruang tamu.
Saya jadi teringat curhatan ibu saya, tentang anak sahabatnya yang bila menerima ibu saya dirumahnya, tidak ada keramahannya, bahkan tersenyum saja tidak. Ibu saya bingung, apa anak-anak sekarang ga dibiasain menerima tamu, mengobrol dengan tamu, padahal ibu saya tau kalau sahabatnya itu sangat ramah. Waktu bertanya kepada saya, saya cuma menjawab, mungkin memang eranya beda, Bu. Mungkin diantara mereka sendiri juga ngga ada keramahan dalam pergaulannya. Lah, saya kalau jalan-jalan di Mall, itu anak-anak ABG dengan santainya berjalan ramai-ramai sampai hampir menutup seluruh lebar jalan, membuat orang lain sulit lewat. Belum lagi sarana internet yang memudahkan kita komunikasi, tapi secara bersamaan tidak membiasakan kita berinteraksi langsung dengan lawan bicara.
Lho kok jadi saya yang curhat, oke, balik lagi.
Terus, apa hubungannya cerita Budiman dengan periklanan?
Ada 3 pelajaran yang bisa dipetik dari situ, Mandiri, Berani dan Supel. Periklanan itu berhubungan erat dengan marketing. Produk yang sama bisa berjuta bentuk dan warna beredar dipasaran dalam label yang berbeda-beda. Tentu ini melahirkan persaingan yang sangat ketat. Kalau dalam promosinya kita hanya bisa mengekor, membuntut promosi yang sudah ada, tidak mungkin bisa meraih pasar.
Iklan membutuhkan keterampilan presentasi yang handal. Sekedar jago ngecap pun tidak cukup, tetapi harus didasari ilmu yang kuat. Kalau presentasi terbata-bata bagaimana meyakinkan klient? Persiapan yang matang dan latihan bisa membantu kita untuk berani presentasi.
Tak kenal maka tak sayang. Tidak selalu dengan kepintaran dan dominasi untuk bisa mengikat klien, tapi juga dengan sikap persahabatan. Tidak jarang klien bertahan untuk tetap menggunakan jasa kita dari pada pesaing yang menawarkan harga lebih murah, hanya karena ikatan personal. Pribadi yang menyenangkan terbangun dari cara bersosialisasi dari kecil, dan itu bisa menjadi modal kita untuk mengikat klien.
Dan banyak lagi pelajaran yang bisa diambil, yang bisa memperluas wawasan kita. Walau memang sebagian terlalu lekat dengan dunia Advertising yang kadang saya juga kurang paham. Hehe
wah iya mas. dah seperti kiblat budaya saja, trend setter. pembantu rumah saya yang dari kampung sampai sakit apa aja, batuk, pilek, pusing, minumnya jamu bintang tujuh.
Setuju tuh Mas... iklan sekarang banyak yang kurang cerdas deh ^_^
iya, bagaimanapun praktisi iklan harus ngikutin maunya klien, klien punya survey karakter pasar, dan karakter pasar senengnya liat tukul dan dangdut trio macan. hehe
iya, bagaimanapun praktisi iklan harus ngikutin maunya klien, klien punya survey karakter pasar, dan karakter pasar senengnya liat tukul dan dangdut trio macan. hehe
Emang serba salah ya Mas... dalam arti kalau mau mengedukasi itu harus dilakukan pada dua pihak... ya kliennya ya pasarnya ^_^... nggak bisa cuma satu2 karena biasanya jarang ada klien yang mau mengambil resiko ^_^
company ku ndak pernah bikin iklan.. krn pasarnya udh pasti.. yang ada cuma ngandelin friendshipness yg kebentuk selama ini.. makanya byk klien2 yg udh jd temen seiya sekata :-p mpe mo komplen pun mereka suka sungkan ;)) hehe
Comment deleted at the request of the thread owner.
yang ada cuma ngandelin friendshipness yg kebentuk selama ini.. makanya byk klien2 yg udh jd temen seiya sekata :-p
iya itu salah satu strategi marketing yang mujarab, bikin klien setia sama kita dengan menjaga relationship yang bagus. tapi kita jg kudu tetep kasih pelayanan yang terbaik dipekerjaan kita. hehe
company ku ndak pernah bikin iklan.. krn pasarnya udh pasti.. yang ada cuma ngandelin friendshipness yg kebentuk selama ini.. makanya byk klien2 yg udh jd temen seiya sekata :-p mpe mo komplen pun mereka suka sungkan ;)) hehe